Kelapa sawit telah menunjukkan peran yang signifikan dalam menunjang perekonomian nasional, tercermin dari peningkatan yang sangat pesat dalam dua puluh tahun terakhir, baik dari segi peningkatan luas areal, produksi, maupun kontribusi ekonomi. Peran kelapa sawit tidak terlepas dari eksistensi benih unggul yang dihasilkan oleh produsen resmi yang mempunyai sejarah pemuliaan yang sistematis dan berkelanjutan. Tenera/Pisifera yang berbeda dengan 161 tetua Dura telah diuji dan diamati selama 9 sampai 12 tahun. Siklus kedua RRS telah dimulai sejak tahun 1986 dan direvisi secara radikal pada tahun 1992.

Hasil-hasil observasi sampai tahun 2004 merupakan bahan yang sangat berharga untuk melanjutkan skema seleksi ini memasuki siklus ketiga. Sampai saat ini, telah dihasilkan 2 (dua) varietas baru dari siklus kedua ini, yakni varietas Simalungun dan Langkat, yang mampu berproduksi sampai 8 ton CPO/ha/tahun. Sebanyak 27 tetua dari berbagai populasi dura dan 33 tetua tenera/pisifera dari berbagai orijin telah dipilih berdasarkan daya gabung umum (general combining abilities/GCA) dan daya gabung khusus (specific combining abilities/SCA). Penyusunan mating design telah dimulai sejak 2003, dan hingga 2006 telah tersusun sebanyak 25 program. Hingga Desember 2006 status realisasi mating design dengan kode program RRS 3A_PS2 dan RRS 3A_PS6 masing-masing telah mencapai 95,2 % dan 90,5 %, namun demikian masih dilakukan pengulangan pada beberapa persilangan untuk melengkapi jumlah biji yang dihasilkan. Sementara untuk kode program yang lain masih terus berlangsung. Pada 2004-2006 telah dilakukan 511 serbukan selfing dan crossing. Sebanyak 37,7% serbukan telah terealisasi dari total 533 serbukan sesuai mating design yang telah disusun, dan 80 % dari seluruh tetua telah diselfing. Ditargetkan seluruh program mating design dapat selesai pada 2008.

Kandidat Varietas Baru
Pengamatan dan analisis data yang dilakukan pada percobaan MA 08 S, BJ 13 S, BJ 37 S dan BJ 38 S menghasilkan 2 kandidat varietas baru yaitu varietas Big Bunch dan High Mesocarp.

Tetua-tetua dari RS 3 T self (lini murni SP 540) secara konsisten memperlihatkan persentase mesokarp yang lebih tinggi, yaitu 87,1%, dibandingkan dengan rerata seluruh persilangan (82,3%). Tingginya kedua komponen mutu tandan berdampak kepada peningkatan rendemen (oil extraction rate/OER) hingga 31,1%, lebih tinggi dibandingkan dengan rerata pengujian yaitu 28,5%. Kombinasi terbaik tetua-tetua RS 3 T self untuk menghasilkan persentase mesokarp tinggi adalah tetua-tetua dari PA 131 D self dan tetua-tetua TI 221 D x GB 30 D. Projeni-projeni hasil persilangan dengan tetua-tetua kedua orijin dura tersebut menghasilkan persentase mesokarp berturut-turut sebesar 88,5% dan 87% serta rendemen minyak berturut-turut sebesar 32,5% dan 29,9%.

Rerata bobot tandan (ABW) yang dihitung pada periode umur 6-9 tahun untuk projeni-pr ojeni yang diuji pada siklus kedua ini adalah 15,9 kg. Salah satu projeni yang diuji, DA 115 D self x LM 718 T self, menujukkan ABW yang jauh lebih tinggi dibanding rerata pengujian yakni
22,8 kg pada periode umur 6-9 tahun. Dari 16 persilangan yang diuji yang berasal dari 14 tetua keturunan DA 115 D dan 7 tetua keturunan LM 718 T self, keseluruhannya menunjukkan keragaan yang konsisten untuk sifat ABW tinggi.

Sumber : PPKS

0 Comments:

Post a Comment



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda